KUNJUNGAN KE SITUS PURBAKALA PUGUNG RAHARJO

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Situs Pugung Raharjo ditemukan pada tahun 1955, dan hingga kini situs ini telah menunjukan keistimewaanya. Sebuah arca yang disebut “Putri Badariah” muncul di semak-semak di atas sebuah undak yang biasa dikategorikan sisa-sisa peninggalan megalitik. Tidak begitu lama, sebuah stamba (tugu kecil) ditemukan dibagian selatan situs. Kedua peninggalan ini berdasarkan bentuk dan cirinya dapat diklasifikasikan sebagai peninggalan dari masa pengaruh Hindu Budha, tetapi temuan benda cagar budaya ini menimbulkan permasalahan. Apakah kedua jenis peninggalan ini muncul bersamaan dan berkembang ditempat yang sama. Kalau benar bahwa tradisi megalitik muncul berdampingan dengan budaya Hindu Budha, bagaimana perilaku keagamaan dan peribadatannya, sementara mereka tinggal pada lahan yang sama di dalam benteng/parit. Permasalahan yang saling kait mengkait antara satu dengan yang lainnya perlu dijelaskan secara transparan dan jelas, sehingga nantinya akan menghasilkan suatu pemecahan dari masalah tersebut.







1.2 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. untuk memberikan pengetahuan dalam mengenal lebih dekat Taman Purbakala Pugung Raharjo.
2. untuk melestarikan sejarah dan kebudayaan Taman Purbakala Pugung Raharjo.





















BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Situs Pugung Raharjo

2.1.1 Lokasi

Pugung Raharjo merupakan suatu situs purbakala yang terkenal di daerah Lampung. Pugung Raharjo terletak sekitar 250 m disebelah kiri jalan Panjang-Way Kambas, terletak pada koordinat 5o18’54” LS dan 105o32’03” BT dan pada ketinggian ± 80 m diatas permukaan air laut. Pugung Raharjo merupakan kecamatan Jabung, kabupaten Lampung Timur, provinsi Lampung.

2.1.2 Peninggalan Masa Prasejarah

Pada masa berburu tingkat sederhana, ditandai dengan kehidupan manusia yang memanfaatkan keadaan alam secara penuh. Mereka dapat membuat alat dalam bentuk sederhana dan masih kasar seperti kapak perimbas, kapak penetrak, kapak genggam, pahat genggam dan lain-lain. Pada masa berburu tingkat lanjut, mereka dapat membuat alat dari batu dan kerang. Mereka memanfaatkan gua-gua atau ceruk-ceruk sebagai tempat berlindung dari panas terik maupun udara dingin.
Pada masa bercocok tanam ditemukan alat-alat dari batu yang sudah diasah atau digosok secara halus, antara lain beliung, belincung, pahat dan gelang. Setelah masa bercocok tanam, muncullah masa perundagian. Pada masa ini manusia sudah mengenal alat-alat dari logam yaitu dari besi dan perunggu. Pada masa ini ditandai dengan peninggalan yang indah yaitu nekara perunggu dan moko.

2.1.3 Teras Berundak

Teras berundak di Pugung Raharjo ditemukan di dalam maupun di luar benteng. Ukuran teras berundak tersebut terdiri dari berbagai macam. Ada yang besar, ada juga yang kecil. Teras berundak merupakan hasil karya manusia pendukung tradisi megalitik yang dapat dikelompokokan kedalam megalitik tua. Bangunana teras berundak ini tersebar di Indonesia bersama-sama dengan batu datar, dolmen dan menhir. Teras-teras berundak di Pugung Raharjo di Bangun dengan maksud-maksud tertentu yang berkaitan dengan pemujaan arwah nenek moyang.

2.1.4 Batu Mayat

Batu mayat berupa susunan batu tegak dan batu datar yang berdenah persegi panjang, dengan bentuk seperti kandang. Oleh penduduk setempat, batu yang seperti kandang di Pugung Raharjo biasa disebut dengan batu mayat. Pemberian nama batu mayat didasarkan temuan menhir berbentuk kemaluan laki-laki (phallus) yang pada waktu ditemukan dalam posisi rebah dan menyerupai mayat. Nama batu mayat itu sendiri hanya ditujukan pada pahatan phallus. Sedangkan bersama-sama batu mayat ditemukan megalitik-megalitik yang lain, seperti batu tegak, batu diatas dan batu bergores. Oleh karena itu kompleks batu-batu tersebut diberi nama komplek batu mayat.




2.1.5 Lupang Batu

Lumpang-lumpang batu ditemukan tidak jauh dari sebelah mataair yang terdapat dikompleks megalitik Pugung Raharjo. Bersama-sama dengan lumping batu ini pula ditemukan batu-batu berlubang serta batu bergores. Mengenai fungsi lumping batu Pugung Raharjo tentu tidak jauh berbeda dengan fungsi lumpang-lumpang batu yang ditemukan di situs-situs lain. Dengan adanya studi perbandingan tentang fungsi lumpang batu diberbagai tempat di Indonesia dapat disimpulkan bahwa lumpang batu mempunyai fungsi yang bersifat profane yaitu untuk menumbuk biji-bijian sebagai bahan konsumsi dan ada juga yang berfungsi sacral karena dianggap mempunyai kekuatan ghaib. Lumpang batu berdasarkan bentuk dan ukurannya ada yang besar, kecil dan ada pula yang ukurannya sangat besar yang mencapai 3 m lebar dan 4 m panjang, dengan tinggi 1,5 m.

2.1.6 Batu Berlubang

Batu-batu berlubang di situs megalitik Pugung Raharjo ditemukan mulai dari mata iar Pugung Raharjo samapai sepanjang aliran sungai pugung. Batu berlubang hamper secara umum ditemukan disetiap situs megalitik. Artinya batu berlubang mempunyai peranan dan fungsi yang penting dan merupakan artefak yang bersifat umum, baik di Indonesia maupun dikawasan luar lainnya. Istilah batu berlubang dibedakan menjadi dua, yaitu lumpang batu dan batu dakon. Batu berlubang adalah monolit yang pada salah satu bagian permukaanya terdapat lubang besar. Khusus batu dakon mempunyai beberapa lubang yang diatur berbaris (dua baris), sedangkan pada bagian ujung baris terdapat masing-masing sebuah lubang yang dalam permainan dakon biasa disebut “lumbung” (bahasa jawa) yang digunakan sebagai tempat menampung biji yang diperoleh dalam permainan.

2.1.7 Batu Bergores

Seperti halnya batu berlubang, batu bergores juga ditemukan di dekat mata air dan dipinggir sungai. Artefak ini dinamakan batu bergores karena merupakan batu yang pada bagian permukaannya terdapat goresan-goresan, khususnya berupa bekas-bekas asahan sejenis benda tajam. Berdasarkan goresan yang sangat halus jelas bahwa penggunaan batu bergores tersebut sudah berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama. Berdasarkan cerita, bahwa batu bergores disana berhubungan dengan kepercayaan terhadap kekuatan gaib (dinamisme). Mereka percaya bahwa batu bergores tersebut dapat melindungi dalam pertempuran/peperangan. Batu bergores dimanfaatkan sebagai alat untuk mengasah tombak atau parang dan alat-alat lainnya yang akan dipakai dalam peperangan. Dengan adanya upacara-upacara tertentu dan mengasah parang dengan batu bergores diyakini akan mendapatkan kemenangan dalam pertempuran.

2.1.8 Benteng

Benteng Pugung Raharjo adalah berbentuk kepersegian terdiri dari benteng parit tetapi salah satu sisinya berupa anak sungai sekampung. Anak sungai sekampung inilah yang biasa disebut “benteng”. Benteng Pugung Raharjo tersebut memiliki kedalaman parit 4 meter ditambah untuk masuk dalam benteng 2 m. dengan adanya benteng, maka dari segi keamanan baik itu dari musuh atau ancaman binatang buas dapat diatasi. Keadaan sungai atau benteng ini mempunyai tepi yang tegak dengan air yang deras, sehingga keadaan yang demikian dapat menggantikan fungsi benteng berkaitan dengan benteng terdapat masalah lagi, yaitu keberadaan berbagai teras berundak yang berada diluar benteng. Adanya teras-teras berundak yang berdiri diluar benteng, jelas pendukung tradisi megalitik pada saat-saat tertentu akan keluar dari benteng untuk melaksanakan peribadatan diluar benteng dimana teras berundak berada.

2.2 Rekontruksi Budaya Pugung Raharjo

2.2.1 Fungsi Benteng Parit

Situs Pugung Raharjo merupakan tempat yang dipilih oleh pendukung tradisi megalitik. Pertimbangannya berdasarkan adanya sungai yang mengalir disebelah selatan situs serta adanya sumber mata air yang tak pernah kering dilokasi itu. Fungsi benteng parit tersebut tidak benar-benar digunakan sebagai benteng, dalam arti untuk mempertahankan serangan musuh, tetapi untuk menghindari adanya serangan musuh. Pintu gerbang masuk dan keluar dibuat untuk mengambil air bersih dan keperluan lainya.

2.2.2 Upacara yang Berkaitan dengan Tinggalan Arkeologi

Prinsip dasar kepercayaan pendukung megalitik adalah pemujaan terhadap arwah. Anggapan mereka bahwa arwah nenek moyang akan tetap hidup dan selalu berhubungan dengan masyarakat yang ditinggalkan. Untuk menghormati dan memuja arwah, dibangunlah batu kandang. Batu kandang ini dilengkapi dengan batu berdiri berbentuk kemaluan laki-laki. Maksudnya sebagai suatu cara untuk membatasi tempat-tempat yang bersifat sacral dan bukan sacral serta dianggap suatu pusat pemujaan.

2.2.3 Kemampuan Beradaptasi dengan Lingkungan.

Lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan pendukung megalitik. Aliran sungai yang besar dapat berfungsi sebagai alat transportasi antara situs dengan kawasan lain. Selain itu juga berfungsi untuk sumber air untuk kelangsungan pembudidayaan pertanian. Keadaan Pugung Raharjo pada masa lampau sangat rawan binatang-binatang buas sangat menghantui. Dengan keadaan seperti itu, maka pendukung megalitik perlu segera membangun parit-parit besar dan dalam serta tanggul

2.2.4 Aktifitas Komunikasi

Dari adanya peninggalan seperti gerabah, manik-manik, arca-arca berciri agama Hindu Budha dan stamba, dapat diketahui bahwa adanya aktifitas komunikasi antara situs satu dengan situs lainnya di Lampung. Seperti arca Bodisatva yang dipahat sangat indah merupakan data dan fakta adanya komunikasi yang berlangsung pada masa klasik. Hal ini memberikan bukti bahwa keadaan lingkungan di Pugung Raharjo memiliki kualitas yang dapat menjamin kelangsungan hidup masyarakat yang ada disana.

2.2.5 Kemahiran Teknologi

Pendukung megalitik memiliki kemahiran untuk membuat benda berteknologi tinggi, dari penelitian telah ditemukan pecahan gerabah baik polos maupun berhias. Selain itu sisa-sisa tuangan kaca untuk membuat manik-manik juga ditemukan. Peninggalan tersebut merupakan bukti bahwa pendukung megalitik memiliki kemampuan membuat benda bertejnologi tinggi. Masyarakat pendukung megalitik juga dapat membuat benda alat-alat dari logam. Hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan arca-arca sederhana, arca bertipe Budha, pahatan phallus dan pahatan stamba.

2.2.6 Jati Diri dan Kebanggaan Nasional

Temuan purbakala Pugung Raharjo merupakan warisan budaya yang tidak ternilai harganya. Situs arkeologi ini merupakan hasil cipta, rasa dan karsa nenek moyang masa lampau. Banyak sekali temuan-temuan yang tersebar di lahan perbentengan. Hal ini menandakan bahwa nilai luhur yang dimiliki masyarakat Pugung Raharjo sangat tinggi. Sifat gotong royong dan semangat persatuan dan kesatuan telah bersemi dan tumbuh secara subur pada masa prasejarah. Warisan budaya yang tinggi nilainya merupakan kekayaan yang diwariskan nenek moyang. Dengan mengenal berbagai teknologi, khususnya teknik pembuatan gerabah, teknik memahat batu, teknik tuang logam serta pembuatan manik-manik, Pugung Raharjo begitu fenomenal telah memberikan keindahan dan kebanggaan tersendiri bagi nusa dan bangsa.








BAB III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari hasil uraian diatas dapat diketahui bahwa masyarakat pendukung megalitik telah membuat alat-alat, baik itu yang dari batu maupun logam. Hal tersebut dapat diketahui dengan adanya temuan-temuan seperti arca, stamba, arca bertipe Budha, benda-benda gerabah dan pahatan phallus. Pendukung budaya megalitik telah dapat beradaptasi terhadap lingkungan secara baik. Mereka memanfaatkan keperluan harkat orang banyak. Selain itu, masyarakat pendukung megalitik juga telah meninggalkan warisan yang tidak ternilai yang telah memberikan kebanggaan serta jati diri terhadap nusa dan bangsa.

3.2 Saran

Dalam penulisan makalah ini masih banyak adanya kekurangan maupun kelebihan. Untuk itu, adanya beberapa hal yang perlu dilakukan:
1. agar pembaca memperbaiki kesalahan ataupun kekurangan maupun kelebihan dalam pembuatan makalah ini.
2. agar pemerintah daerah merenovasi sarana dan prasarana yang ada ditaman purbakala Pugung Raharjo, serta menambah sarana yang belum tersedia disana.







KUNJUNGAN
KE SITUS PURBAKALA PUGUNG RAHARJO
LAMPUNG TIMUR










Oleh :
DIAH FUJI LESTARI KADIR
0713032002
















PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PPKN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2007/2008





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
PENDAHULUAN 1
I.1 Latar Belakang Masalah 1
I.2 Tujuan 2
II PEMBAHASAN 3
II.1 Situs Pugung Raharjo 3
II.1.1 Lokasi 3
II.1.2 Peninggalan Masa Prasejarah 3
II.1.3 Teras Berundak 4
II.1.4 Batu Mayat 4
II.1.5 Lumpang Batu 5
II.1.6 Batu Berlubang 5
II.1.7 Batu Bergores 6
II.1.8 Benteng 6
II.2 Rekontruksi Budaya Pugung Raharjo 7
II.2.1 Fungsi Benteng Parit 7
II.2.2 Upacara yang Berkaitan Dengan Tinggalan Arkeologi 7
II.2.3 Kemampuan Beradaptasi Dengan Lingkungan 8
II.2.4 Aktifitas Komunikasi 8
II.2.5 Kemahiran Teknologi 8
II.2.6 Jati Diri dan Kebanggaan Nasional 9
III PENUTUP 10
III.1 Kesimpulan 10
III.2 Saran 10














KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan ke hadirat ALLAH SWT. Karena atas kehendak-Nyalah makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Penulisan makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas laporan kunjungan ke situs purbakala Pugung Raharjo. Selain itu menyelesaikan tugas, tujuan penulis dalam penulisan makalah ini adalah untuk memaparkan bagaimana asal usul, penemuan dan perkembangan situs purbakala Pugung Raharjo sekaligus mempelajari kebudayaan yang pernah ada pada situs purbakala Pugung Raharjo pada masa Prasejarah maupun pada masa sejarah.

Dalam penyelesaian makalah ini, penulis banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan dan informasi. Namun, berkat bimbingan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat diselesaikan, walaupun masih banyak kekurangannya.

Penulis menyadari, sebagai seorang mahasiswa yang masih banyak memiliki kekurangan baik dalam ilmu juga informasi dan masih perlu banyak belajar lagi, menyadari pada makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran agar makalah ini menjadi lebih baik dan berguna dikemudian hari.

Harapan penulis, pada makalah yang sederhana ini dapat membuktikan bahwa mahasiswa juga berperan dalam melestarikan sejarah khususnya pada situs-situs purbakala yang membutuhkan perhatian khusus bukan hanya dari mahasiswa tapi juga pemerintah dan masyarakat, karena situs-situs yang ada merupakan bukti sejarah perkembangan kebudayaan yang terjadi pada bangsa kita. Dan kita sebagai generasi penerus sudah sepantasnya turut menjaga dana memelihara apa-apa yang menjadi warisan dari masa sebelumnya dan untuk diwariskan kembali pada masa selanjutnya.

Bandar Lampung, 23 September 2007
PENULIS

2 comments:

Anonymous said...

thx ia !!
thx bgt .
disuruh bikin kelompok pas search di google ternyata dapet jga !!

Deandra Kira Nirmala said...

Enaknya kalau bisa jalan jalan ke - Lampung Timur